Oleh : Abu Nida
Rakyat yang buruk menghasilkan Pemerintah
yang buruk
Hiruk pikuk cacian
dan “kritikan” terhadap pemerintah secara terbuka sudah menjadi hal yang biasa
di negri ini, baik dari media sosial yang dilakukan oleh para netizen maupun melalui media masa yang
digawangi oleh para insan pers. Kritikan kepada pemerintah dilakukan secara
terbuka dan massif, baik dengan alasan kebebasan berpendapat maupun dengan
alasan memberi nasehat kepada pemimpin, terkadang juga dibalut dengan agama. Alih-alih
ingin menasehati namun belakangan malah berujung membangun kebencian,
ketidakpercayaan dan berusaha melemahkan pemerintah di depan rakyatnya sendiri.
Tidak sedikit kritikan ada yang tidak dikemas dengan ilmu, etika dan tujuan
yang jelas.
Disisi lain,
pemerintah sebagai pelayan rakyat masih tergopoh gopoh dalam menjalankan tugas
dan fungsinya. Kasus korupsi, pemborosan anggaran, pelayanan publik yang buruk
serta konflik kekuatan politik terkesan menjadi beban yang harus dipikul oleh
pemerintah dalam melayani rakyatnya. Dan akhirnya pelayanan menjadi tidak
efektif sehingga berimbas kembali kepada rakyat.
Potret
pemerintah yang buruk merupakan cerminan dari amalan atau attitude rakyatnya, Islam menjelaskan bahwa ada korelasi
antara akhlak kebanyakan dari rakyat dengan kebijakan pemerintah yang berkuasa.
sebagaimana alqur’an menjelaskan :
“Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang
yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka
lakukan.” (Qs Al An’am: 129)
Pendapat
Ar Razi menjelaskan ayat di atas adalah dalil yang menunjukkan jika rakyat
suatu negara itu zalim seperti gemar maksiat, korupsi dsb, maka Allah akan
mengangkat untuk mereka penguasa yang zalim semisal mereka. Jika mereka ingin
terbebas dari kezaliman penguasa yang zalim maka hendaknya mereka juga
meninggalkan kemaksiatan yang mereka lakukan (Munandar:2009).
Secara tidak
langsung penjelasan Ar-razi menyatakan bahwa perilaku rakyat yang buruk (gemar
mencaci,membangun kebencian, korupsi, maksiat dan sebagainya) hanya akan
melahirkan pemimpin yang korupsi, zalim, tidak peka terhadap penderitaan dan
sebagainya. Cacian dan kritikan yang tidak beradab hanya akan menghasilkan
keburukan.
Etika Memberi Nasehat Kepada Pemerintah
Seperti yang
dikutip oleh Zainal (2011) tentang hadits menasehati pemimpin dari
Ibnu Hakam meriwayatkan, bahwa Nabi saw bersabda:
”Barangsiapa yang ingin menasihati
pemimpin, maka jangan melakukannya secara terang-terangan. Akan tetapi,
nasihatilah dia di tempat yang sepi. Jika menerima nasihat, itu sangat baik.
Dan bila tidak menerimanya, maka kamu telah menyampaikan kewajiban nasihat
kepadanya.” [HR Imam Ahmad].
Kemudian
pendapat Syekh Bin Baz tentang menasehati pemerintah seperti yang dikutip oleh
Zainal (2011) bahwasanya menasihati pemerintah sebagaimana
orang-orang saleh terdahulu tidak dengan
cara terang-terangan melalui mimbar-mimbar
atau tempat-tempat umum karena hanya menimbulkan keresahan dan menjatuhkan martabat pemerintah.
Selanjutnya Syekh menjelaskan menasehati
pemerintah yaitu dengan mendatanginya, mengirim surat atau menyuruh salah
seorang ulama yang dikenal untuk menyampaikan nasehat tersebut.
Setidaknya
berdasarkan penjelasan diatas ada tiga metode yang dibenarkan agama dalam menasehati
pemerintah yaitu dengan mendatanginya langsung (hearing and lobbying), mengirim surat (policy brief) dan melalui perantara ahli ilmu (pakar dibidangnya).
Menasehati pemerintah harus didasarkan pada ilmu bukan dengan prasangka,
kemudian harus dilakukan dengan sabar , good
attitude dan bertemu langsung bukan dengan caci maki, dan bukan di media
sosial atau tempat-tempat umum.
Belajar dari Lembaga Pattiro
Pattiro yang
memiliki akronim Pusat Telaah Dan Informasi Regional merupakan organisasi yang
dibentuk oleh masyarakat yang berdiri pada tahun 1999. Dedikasi yang dibangun
oleh Pattiro adalah membangun tata kelola pemerintahan yang baik (Good Governance) dan memiliki misi
meningkatkan kualitas pelayanan publik diantaranya bidang pendidikan dan
kesehatan.
Pattiro
mendepankan ilmu dan penelitian ilmiah dalam menjalankan misinya. Diantara yang
dilakukan Pattiro adalah melakukan analisis kebijakan publik sebelum melakukan
usulan kebijakan kepada pemerintah. Kemudian Pattiro juga melakukan asistensi
teknis dan hearing and lobbying kepada
para pemangku kebijakan untuk memastikan bahwa usulan kebijakan yang
disampaikan diterima secara efektif oleh pemerintah. Tidak jarang keberhasilan
perubahan kebijakan yang dilakukan Pattiro dirasakan oleh rakyat banyak (www.pattiro.org). Cara santun dan berilmu yang dilakukan oleh Pattiro
merupakan model yang baik antara rakyat dengan pemerintah.
Bagaimana jika kita
tidak berilmu atau awam ?
Selain
berilmu, menasehati pemerintah atau pemimpin juga harus dengan keikhlasan dan
menjauhi ambisi pribadi,kemudian yang paling penting berdoa kepada Allah swt.
Seperti yang dikutip Zainudin (2011) tentang pendapat Imam Ibnu Nahhas mengenai
sikap kaum muslimin terhadap pemerintah bahwa orang yang menasihati pemimpin
atau penguasa, hendaknya mendahulukan sikap ikhlas untuk mencari ridha Allah.
Barangsiapa yang mendekati pemimpin untuk mencari popularitas atau jabatan atau
sanjungan, maka ia telah berbuat kesalahan yang besar dan melakukan perbuatan sia-sia.
Kemudian ulama terdahulu seperti Sufyan Ats tsauri sering
menolak pemberian para penguasa, karena khawatir pemberian tersebut
menghalanginya untuk mengingkari kemungkaran.
Namun kepada yang rakyat yang masih awam maka para ulama memberikan pendapat
bahwa sikap yang benar orang awam terhadap pemerintah dengan bersabar, patuh dan taat dalam perkara
yang ma’ruf, mendo’akan kebaikan bagi mereka, berusaha sekuat tenaga
meminimalkan kejahatan dan menyebarkan sebanyak-banyaknya nilai-nilai kebaikan.
Dikutip dari Zaenal (2011) seperti yang
disampaikan oleh Syekh Bin Baz dalam majalah Majalah Syarq Al Ausath tentang bersabar dalam menasehati pemimpin
yaitu:
“barangsiapa
beranggapan bahwa pemikiran semacam ini merupakan kekalahan dan kelemahan, maka
sesungguhnya angapan seperti itu menunjukkan kekeliruan dan kedangkalan
pemahamannya. Artinya, mereka tidak memahami dan tidak mengenal Sunnah Nabi
sebagaimana mestinya. Dalam menghilangkan kemungkaran, mereka hanya dibakar
oleh semangat dan emosi untuk menghilangkannya saja, sehingga (kemudian) mereka
melanggar rambu-rambu syari’at, sebagaimana Khawarij dan Mu’tazilah”
Penutup
”Barangsiapa yang mendapatkan dari
pemimpin(nya) sesuatu yang tidak menyenangkan, maka hendaklah bersabar.
(Karena) sesungguhnya, barangsiapa yang keluar dari pemimpin, maka meninggal
dalam keadaan jahiliyah.” [HR Al Bukhari].
Referensi :
Zainal
Abidin, Manhaj Ahli Sunnah Terhadap
Penguasa, almanhaj.or.id, 2011
Aris
Munandar, Pemimpin Yang Zholim,
muslim.or.id, 2009
www.pattiro.org