Rumah Sehat Dompet Dhuafa :
Mengelola kedermawanan menjadi
rumah sakit gratis
Setidaknya
dalam tiga tahun terakhir (2012-2014) total penerimaan zakat Dompet Dhuafa (DD)
sekitar 346 milyar dan penerimaan selain zakat sebesar 220 milyar, sehingga
dalam kurun waktu tiga tahun ada sekitar
560 milyar dana zakat dan non zakat (infak, sedekah, wakaf, dsb) yang berhasil
dihimpun DD dari masyarakat. Kemudian dari dana tersebut sekitar 512 milyar
rupiah sebagian besar disalurkan ke dalam beberapa bentuk cluster program
seperti pendidikan, kesehatan, sosial masyarakat dan program ekonomi.
Penyaluran
dana program kesehatan selama tiga tahun mencapai sekitar 134 milyar rupiah
atau sebesar 26 % dari total penyaluran. Bentuk program kesehatan yang
digulirkan DD antara lain Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) yang beroperasi
sejak 2001, Program Pos Sehat sebagai pengembangan program LKC kemudian pada
tahun 2012 DD melaunching program
layanan kesehatan gratis untuk orang miskin dengan label Rumah Sehat Terpadu
Dompet Dhuafa (RSTDD).
Berdasarkan
laporan tahunan 2012, Ismail A Said selaku Presiden Direktur DD dalam kata
pemgantarnya menyatakan RST DD adalah rumah sakit gratis pertama di Indonesia untuk
dhuafa yang dibangun menggunakan dana wakaf dan donasi. Sementara untuk
kegiatan operasionalnya menggunakan dana zakat. Setelah berjalan satu tahun, RST
DD selalu penuh. Tak kurang dari 200 masyarakat Dhuafa berobat jalan di rumah
sakit tersebut setiap harinya.
Potret
Kepuasan Pengunjung RSTDD
Tahun 2015
Divisi Kebijakan Publik DD bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Penelitian
EFFA melaksanakan penelitian yang bertujuan untuk memotret pelayanan RSTDD dan Rumah
Sakit lain yang pernah dikunjungi oleh pengunjung RSTDD diantaranya adalah RS
Fatmawati, RSUD Cibinong, RSUD Leuwiliyang, RS AURI, RSUD Depok, RSPAD Gatot
Soebroto, RS Karya Bakti, RS Sentra Medika, RS Cibinong, RS Marzuki, RS Ridwan
Kramat Raya, RS PMI, RS Islam Bogor. Potret pelayanan berdasarkan konsep
kerangka kepuasan pelanggan yang terdiri dari aspek tangibility, aspek emphaty,
aspek responsiveness, aspek reliability dan aspek assurance.
Responden
adalah pengunjung RSTDD baik pasien maupun keluarga pasien dengan mengambil
sampel sebanyak 150 orang. Berdasarkan jawaban responden, puas terhadap
pelayanan RSTDD dan tidak puas terhadap pelayanan rumah sakit lain. Faktor yang
paling mempengaruhi kepuasan responden terhadap pelayanan RSTDD adalah aspek
emphaty (ketulusan serta keikhlasan pelayanan pihak rumah sakit) dan aspek
tangibility (kondisi bangunan).
Pertama
kali yang ditanya kepada responden sehubungan dengan penilaian pelayanan RSTDD
adalah kondisi bangunan. Setidaknya berdasarkan jawaban responden sebanyak 15 %
menilai kondisi bangunan RSTDD sangat baik dan 81 % responden menilai baik 3 %
menilai cukup baik dan walaupun tidak terlalu signifikan 1 % responden menilai
kondisi bangunan RSTDD buruk.
Selain
kondisi bangunan, responden juga diminta untuk menilai kenyamanan ruang tunggu.
Porsi penilaian yang menyatakan kenyamanan ruang tunggu RSTDD sangat baik
sebanyak 6 % namun terhadap rumah sakit lain 0 %, artinya responden tidak ada
yang menilai kenyaman ruang tunggu rumah sakit lain sangat baik. Walaupun tidak
terlalu signifikan ada yang menilai kondisi kenyamanan ruang tunggu RSTDD buruk
yaitu sebanyak 1 %, akan tetapi jumlah yang cukup signifikan penilaian terhadap
kondisi kenyamana ruang tunggu rumah sakit lain, yaitu sebanyak 30 %, melebihi
jumlah yang menilai baik hanya 26 %.
Seperti
kita ketahui salah satu hal yang mempengaruhi kesembuhan pasien adalah adanya
pelayanan yang menyenangkan hati pasien, biasanya diindikasikan dengan sejauh
mana pihak rumah sakit tulus dalam melayani pasien. Dengan jumlah yang cukup
signifikan sebanyak 85 % responden menilai ketulusan pelayanan RSTDD dianggap
baik dan tidak ada yang respoden yang menilai buruk. Adapun terhadap rumah
sakit lain sebanyak 23 % responden
menilai buruk dan walaupun tidak signifikan sebanyak 37 % responden menilai
ketulusan pelayanan rumah sakit lain dianggap baik dan dibandingkan dengan
RSTDD ada responden yang menilai sangat baik yaitu sebanyak 13 % sedangkan
rumah sakit lain tidak memiliki porsi penilaian sangat baik terhadap ketulusan
pelayanan.
Pelayanan
yang bertele-tele tidak jarang membuat pasien merasa tidak puas, bahkan lebih
sering mempengaruhi psikologi pasien. Ketika responden diminta untuk menilai
kesigapan dokter dan perawat dalam melayani pasien, ada perbedaan porsi jawaban
antara RTSDD dengan rumah sakit lain.
Terhadap
jawaban sangat baik, RSTDD memiliki porsi sebanyak 13 % sedangkan rumah sakit
lain tidak ada. Kemudian untuk porsi jawaban bahwa kesigapan dokter dan perawat
dinilai baik, jumlah yang cukup signifikan dimiliki oleh RSTDD yaitu sebanyak
83 % sedangkan rumah sakit lain sebanyak 40 %. Namun yang menarik adalah 39 %
responden menilai bahwa kesigapan dokter dan perawat di rumah sakit lain buruk,
artinya sebagian responden menilai ketidakpuasan terhadap dokter dan perawat di
rumah sakit lain.
Selain
dokter dan perawat, faktor yang mempengaruhi psikologis pasien adalah pelayanan
karyawan kepada pasien. Setidaknya berdasarkan jawaban responden, sebanyak 85 %
menilai kesigapan karyawan RSTDD baik dan walaupun tidak signifikan sebanyak 10
% menilai sangat baik. Berbeda dengan kesigapan dokter dan perawat yaitu
responden tidak ada yang menilai buruk, namun terhadap karyawan RSTDD walaupun
tidak terlalu signifikan, sebanyak 1 % menilai kesigapan karyawan RSTDD buruk. Tetapi
dibandingkan dengan rumah sakit lain, jumlah responden yang menilai buruk
terhadap kesigapan karyawan sebanyak 26 %. Artinya perasaan tidak puas terhadap
rumah sakit lain lebih besar dibandingkan dengan RSTDD.
Pelayanan
resep obat juga dapat digunakan untuk mengukur kualitas pelayanan rumah sakit. Nampaknya,
berdasarkan penilaian responden RSTDD telah memberikan pelayanan yang terbaik.
Hal ini dibuktikan dengan mayoritas responden menilai baik pelayanan resep obat
oleh RSTDD, yaitu sebanyak 88 %. Dan walaupun tidak signifikan sebanyak 4 %
responden menilai pelayanan resep obat RSTDD sangat baik, dan tidak ada
penilaian buruk dari responden.
Kepercayaan
pasien terhadap pelayanan rumah sakit juga mempengaruhi kesembuhan, seorang
pasien yang menganggap dokternya dapat dihandalkan berdampak pada kepercayaan
pasien terhadap dokter tersebut, sehingga membantu membentuk sugesti pasien
untuk mendapatkan kesembuhan.
Mayoritas
responden menganggap bahwa dokter, perawat dan karyawan di RSTDD jujur dan dapat
dipercaya. Berdasarkan jawaban responden tidak ada porsi penilaian buruk dan
sangat buruk. Terhadap dokter dan perawat, 65 % responden menilai baik, s4 %
responden menilai sangat baik dan hanya 1 % yang menilai cukup baik dan masih
dalam kategori baik, artinya responden puas terhadap pelayanan dokter dan
perawat dari sisi jujur dan dapat dipercaya. Nampaknya peniliaian tersebut
berlaku juga terhadap karyawan RSTDD, tidak ada responden yang menilai buruk tentang
kejujuran dan kepercayaan pasien terhadap karyawan RSTDD. Sebanyak 77 %
responden menilai baik, 17 % menilai sangat baik dan 6 % sisanya menilai cukup
baik.
Bebeda
dengan jawaban responden ketika diminta menilai apakah karyawan RSTDD jujur dan
dapat dipercaya yang keseluruhan responden menilai baik, dibuktikan dengan
tidak ada porsi jawaban buruk. Namun ketika diminta menilai bagaimana sikap
karyawan RSTDD terhadap pasien, walaupun tidak signifikan sebanyak 1 %
responden menilai buruk.
Lain
halnya dengan dokter dan perawat RSTDD, sama-sama tidak mendapatkan jawaban
porsi buruk dari responden baik ketika responden diminta menilai tentang jujur
dan dapat dipercaya dengan diminta menilai sikap dokter dan perawat terhadap
pasien. Artinya sikap dokter dan perawat RSTDD terhadap pasien memiliki
hubungan dengan penilaiain kejujuran dan kepercayaan pasien.
Berdasarkan
jawaban responden, setidaknya RSTDD jauh lebih baik dbandingkan dengan rumah
sakit lain dalam hal sikap dokter, perawat dan karyawan terhadap pasien.
Sebanyak 16 % responden menilai sikap dokter dan perawat terhadap pasien adalah
buruk. Sedangkan 24 % menilai buruk sikap karyawan terhadap pasien. Sementara
RSTDD tidak memiliki porsi penilaian buruk tentang sikap dokter dan perawat
maupun dan hanya 1 % yang menilai buruk sikap karyawan terhadap pasien.
Akhirnya,
ketika responden diminta menilai apakah puas terhadap pelayanan rumah sakit?.
Nampaknya berdasarkan jawaban responden, 100 % menilai puas terhadap pelayanan
RSTDD terdiri dari 7 % menilai cukup puas, 64 % menilai puas dan sebanyak 29 %
menilai sangat puas. Dan semoga kedermawanan mampu memberikan kebahagiaan dan
DD menjadi jembatannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar